KEWIBAWAAN
SEORANG PENDIDIK
Di sususn untuk memenuhi
tugas mata kuliah pengantar pendidikan
Oleh kelompok
:
Tesa alex
suhendra
A 421 11 026
A 421 11 026
PENDIDIDKAN JASMANI
KESEHATAN DAN REKREASI
ILMU PENDIDIDKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ULMU PENDIDIDKAN
UNIVERSITAR TADULAKO
ILMU PENDIDIDKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ULMU PENDIDIDKAN
UNIVERSITAR TADULAKO
2012
KATA
PENGANTAR
Segala puji
dan rasa syukur kami sampaikan dan hanya milik Allah SWT. Karena dengan rahmat
dan karunia-NYA lah kami bisa menyelesaikan tugas makalah ini, serta shalawat
dan salam kami minta kepada Allah SWT semoga di hadiahkan kepada nabi junjungan
kita Muhammad SAW yang menjadi suritauladan bagi kita semua. Semoga dengan
selalu bersalawat kepadanya kita nanti mendapat syafaatnya di padang ma’syar
kelak amin-amin YaRabbal’alamin.
Selanjutnya
kami pemakalah mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah
memberikan pemahaman dan tuntutan kapada kami sebagai pamakalah serta waktu
yang telah di tentukan untuk menyelesaikan tugas dari makalah kami ini.
Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kami yang merangkainya dan bagi kita
semuanya dalam melakukan perkuliahan kita ini.
Akhir kata,
kami menyadari masih banyak terjadi kesalahan dalam penyusunan dan perangkaian
makalah ini, maka dari pada itu, kami mengharapkan kritikan dan saran yang
konstruktif dan inovatif demi meraih yang lebih baik dari apa yang kami
sajikan ini dan perbaikan untuk masa yang akan mendatang.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR……………………………………………………………i
DAFTAR ISI………………………………………………………………….,…ii
KEWIBAWAAN
DALAM PENDIDIKAN
- Pengertian Kewibawaan Dalam Pendidikan…………………...………..1
- Fungsi Kewibawaan Dalam Pendidikan…………………………………3
- Penggunaan Kewibawaan oleh Guru dan Pendidik lainnya…............…..4
- Kewibawaan dalam Pendidikan…………………………………………4
- Kewibawaan dan Identifikasi……………………………………….…..5
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………………..iii
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kewibawaan
Konsep
kewibawaan diadopsi dari bahasa Belanda yaitu ”gezaq” yang berasal dari kata
“zeggen” yang berarti “berkata”. Siapa yang perkataannya mempunyai kekuatan
mengikat terhadap orang lain, berarti mempunyai kewibawaan atau gezaq
terhadap orang itu. Kewibawaan itu ada pada orang dewasa, terutama orang
tua. Kewibawaan yang ada pada orang tua (ayah dan ibu) adalah asli. Orang tua
dengan langsung mendapat tugas secara natural dari Tuhan untuk mendidik
anak-anaknya, suatu hak yang tidak dapat dicabuk, karena terikat oleh
kewajiban.
Untuk jelasnya
dapat penulis kemukakan contoh dibawah ini.
Pada suatu sekolah ada seorang guru yang bernama Bapak Budi yang sangat disegani oleh murid-muridnya. Mereka (murid-murid) sangat takut dan patuh kepadanya. Setiap harinya, sebelum Pak Budi masuk ke dalam kelas, murid-murid sudah duduk dengan tenang dan tertib menantikan Pak Budi itu mengajar. Semua perintah dan larangannya serta nasihatnya yang diberikan kepada murid-muridnya, diturut dan dipatuhi oleh anak-anaknya. Anak-anak hormat kepadanya.
Sebaliknya dengan Bapak Salim yang ada di sekolah itu. Ia kurang disegani anak-anak muridnya. Setiap pak Salim mengajar, anak-anak ada saja yang selalu membuat ribut dalam kelas, sehingga kelas menjadi ribut. Peringatan-peringatan dan nasihat-nasihat yang diberikannya tidak atau kurang dihiraukannya oleh murid-muridnya. Anak-anak tidak merasa segan atau patuh kepadanya. Perintah-perintah atau tugas-tugas yang diberikannya, sering kalau tidak dikerjakan oleh murid-muridnya. Karena itu pak Salim seringkali marah dan menghukum anak dalam kelas. Tetapi anak itu bukan semakin patuh atau menurut kepadanya, bahkan sebaliknya. Anak-anak mau mengerjakan apa yang diperintahkannya karena mereka takut; jadi bukan karena insaf atau percaya kepadanya.
Dari contoh di atas dapat kita mengatakan, bahwa Bapak Budi lebih berwibawa, lebih mempunyai kewibawaan atau gezag daripada Bapak Salim. Anak-anak lebih patuh dan lebih segan terhadap Bapak Budi. Segala sesuatu yang diperintahkan atau dinasihatkan ataupun diperingatkan oleh Bapak Budi, lebih meresap dan lebih mudah serta dengan senang menjalankan daripada Bapak Salim. Atau dengan kata lain: pengaruh yang ditimbulkan oleh Bapak Budi lebih dipatuhi oleh anak-anak.
Pada suatu sekolah ada seorang guru yang bernama Bapak Budi yang sangat disegani oleh murid-muridnya. Mereka (murid-murid) sangat takut dan patuh kepadanya. Setiap harinya, sebelum Pak Budi masuk ke dalam kelas, murid-murid sudah duduk dengan tenang dan tertib menantikan Pak Budi itu mengajar. Semua perintah dan larangannya serta nasihatnya yang diberikan kepada murid-muridnya, diturut dan dipatuhi oleh anak-anaknya. Anak-anak hormat kepadanya.
Sebaliknya dengan Bapak Salim yang ada di sekolah itu. Ia kurang disegani anak-anak muridnya. Setiap pak Salim mengajar, anak-anak ada saja yang selalu membuat ribut dalam kelas, sehingga kelas menjadi ribut. Peringatan-peringatan dan nasihat-nasihat yang diberikannya tidak atau kurang dihiraukannya oleh murid-muridnya. Anak-anak tidak merasa segan atau patuh kepadanya. Perintah-perintah atau tugas-tugas yang diberikannya, sering kalau tidak dikerjakan oleh murid-muridnya. Karena itu pak Salim seringkali marah dan menghukum anak dalam kelas. Tetapi anak itu bukan semakin patuh atau menurut kepadanya, bahkan sebaliknya. Anak-anak mau mengerjakan apa yang diperintahkannya karena mereka takut; jadi bukan karena insaf atau percaya kepadanya.
Dari contoh di atas dapat kita mengatakan, bahwa Bapak Budi lebih berwibawa, lebih mempunyai kewibawaan atau gezag daripada Bapak Salim. Anak-anak lebih patuh dan lebih segan terhadap Bapak Budi. Segala sesuatu yang diperintahkan atau dinasihatkan ataupun diperingatkan oleh Bapak Budi, lebih meresap dan lebih mudah serta dengan senang menjalankan daripada Bapak Salim. Atau dengan kata lain: pengaruh yang ditimbulkan oleh Bapak Budi lebih dipatuhi oleh anak-anak.
Dalam situasi
dan kondisi masyarakat sekarang kewibawaan sering diartikan sebagai suatu
kelebihan yang dimiliki seseorang. Dengan kelebihan itu ia dihargai, dihormati,
disegani, bahkan ditakuti oleh orang lain atau kelompok masyarakat tertentu.
Kelebihan tersebut bisa dari segi ilmu, kepintarannya, kekayaannya,
kekuatannya, kecakapannya, sifatnya, dan prilakunya (kepribadiannya).
Kewibawaan
anatar orang tua dengan kewibawaan guru dalam pendidikan memiliki kesamaan dan
perbedaan. Orang tua (ayah dan ibu ) adalah pendidik yang pertama dan sudah
semestinya, mereka adalah pendidik yang alami da asli yang menerima tugas
secara kodrati dari Tuhan untuk mendidik anak-anaknya, karena itu sudah
semestinya mereka memiliki kewibawaan terhadap anak-anaknya.
Kewibawaan
orang tua dapat dilihat dari dua sisi :
1. Kewibawaan
Pendidikan
Orang tua
bertujuan memelihara keselamatan anak-anaknya, agar mereka dapat hidup terus,
dan selanjutnya berkembang jasmani dan rohaninya menjadi manusia dewasa.
Kewibawaan pendidkan berakhir jika anak itu sudah menjadi dewasa. Nasihat yang
diterima atau yang dimintanya dari orang tua meskipun orang yang meminta atau
menerima nasihat itu sudah dewasa, itu juga baik dan banyak yang dituruti.
2. Kewibawaan
Keluarga
Keluarga
merupakan masyarakat kecil yang memiliki peraturan yang harus dipatuhi dan
dijalankan. Tiap anggota keluarga harus patuh terhadap peraturan tersebut. Jadi
orang tua sebagai kepala keluarga mempunyai kewibawaan terhadap anggota
keluarganya. Kewibawaan keluarga bertujuan untuk memelihara keselamatan
keluarga.
Kewibawaan
guru sebgai pendidik bukan dari kodrat, tetapi karena jabatan yang diterimanya,
oleh karena itu kewibawaan yang ada padanya berlainan dengan kewibawaan orang
tua.
a. Kewibawaan
guru dalam pendidikan
Kewibawaan
pendidikan yang ada pada orang tua, guru atau pendidik karena jabatan berkenaan
dengan jabatan sebagai pendidik, telah diserahi sebagian orang tua untuk
mendidik anak-anak. Selain itu guru atau pendidik karena jabatan menerima
kewibawaannya sebagian lagi dari pemerintah yang mengangkatnya mereka.
Kewibawaan yang ada pada guruterbatas oleh banyaknya anak-anak yang diserahkan
kepadanya dan setiap tahun berganti murid.
b. Kewibawaan
memerintah
Disamping
memiliki kewibawaan pendidikan, guru atau pendidik karena jabatannya juga
mempunyai kewibawaan memerintah. Mereka diberi kekuasaan (gezaq) oleh
pemerintah atau instansi yang mengangkatnya. Kekuasaan (kewibawaan) meliputi
pimpinan kelas; disitulah anak-anak telah diserahkan kepadanya. Bagi kepala
sekolah kewibawaan ini lebih luas, meliputi pimpinan sekolahnya.
B. Fungsi
Kewibawaan dalam Pendidikan
Didalam
pergaulan pendidikan terdapat kepatuhan dari anak, yaitu sikap menuruti atau mengikuti
wibawa yang ada pada orang lain, mau menjalankan suruhan orang dewasa secara
sadar. Tetapi tidak semua pergaulan antara orang dewasa dengan anak-anak
merupakan pendidikan, ada pula pergaulan yang semacam itu mempunyai pengaruh
yang jahat atau pergaulan yang netral saja.
Pengaruh yang
dikatakan pendidikan adalah pengaruh yang menuju ke kedewasaan anak, untuk
menolong anak menjadi orang yang kelak dapat atau sanggup memenuhi tugas
hidupnya secara mandiri.
Tidak semua
tunduk atau menurut terhadap orang lain dapat dikatakan “tunduk terhadap wibawa
pendidikan”. Sikap anak terhadap wibawa pendidikan, menurut longeveld ada dua
buah kata yaitu:
a)
Sikap menurut atau mengikut, yaitu mengakui kekuasaan orang lain yang lebih
besar karena paksaan, takut, jadi bukan tunduk atau menurut yang sebenarnya.
b)
Sikap tunduk dan patuh, yaitu dengan sadar mengikuti kewibawaan, artinya
mengakui hak orang lain untuk memerintah dirinya, dan dirinya merasa sendiri
terikat akan memenuhi perintah itu.
Jadi fungsi wibawa pendidikan adalah membawa si anak ke arah pertumbuhannya yang kemudian dengan sendirinya
mengakui wibawa orang lain dan mau menjalankannya.
C. Penggunaan
Kewibawaan oleh Guru dan Pendidik lainnya
Kewibawaan
pendidikan yang dimaksud adalah yang menolong dan memimpin anak ke arah
kedewasaan atau kemandirian. Oleh karena itu, penggunaan kewibawaan oleh guru
dan tenaga kependidikan lainnya perlu didasarkan pada faktor-faktor berikut
ini:
1.
Dalam
menggunakan kewibawaan hendaklah didasarkan atas perkembangan anak sebagai
pribadi. Pendidik atau guru hendaklah mengabdi kepada pertumbuhan anak yang
belum selesai perkembangannya. Dengan kebijaksanaan pendidik, anak dibawa ke
arah kesanggupan menggunakan tenaganya dan pembawaanya yang tepat. Wibawa
pendidikan itu bukan bertugas memerintah, melainkan mengamat-amati serta
memperhatikan dan menyesuaikannya kepada perkembangan dan kepribadian
masing-masing anak.
2.
Pendidik
hendaklah memberi kesempatan kepada anak untuk bertindak atau berinisiatif
sendiri. Kesempatan atau keleluasaan itu hendaknya makin lama makin diperluas,
sesuai dengan perkembangan dan bertambahnya usia anak. Anak harus diberi
kesempatan cukup untuk melatih diri untuk bersikap patuh, karena si anak dapat
bersikap tidak patuh. Jadi. Dengan wibawa itu hendaklah pendidik
berangsu-angsur mengundurkan diri sehingga akhienya tidak diperlukan lagi.
Mendidik anak berarti mendidik untuk dapat berdiri sendiri (mandiri).
3.
Pendidik
hendaknya menjalankan kewibawaannya atas dasar cinta kepada anak. Ini berarti
berbuat sesuatu untuk kepentingan si anak, bukannya memerintah atau melarang
untuk kepentingannya sendiri. Cinta itu perlu bagi pekerjaan mendidik, sebab
dari cinta dan kasih sayang itulah timbul kesanggupan selalu bersedia berkorban
untuk sang anak, selalu memperhatikan kebahagiaan anak yang sejati.
D. Kewibawaan
dalam Pendidikan
1.
Kewibawaan dan
pelaksanaan Kewibawaan dalam keluarga, terutama dimaksudkan untuk melaksanakan
berputarnya roda masyarakat kecil. Kewibawaan dalam keluarga ialah untuk
membawa si anak ke kedewasaan. Bila tidak ada Kewibawaan, si anak tidak akan
dapat mencapai kedewasaannya, tahu norma-norma dan bersedia menyesuaikan
hidupnya dengan norma-norma itu, dengan wibawa itu pendidik hendak membawa anak
agar mengetahui, memiliki dan hidup sesuai dengan norma-norma.
2.
Pelaksanaan
Kewibawaan dalam pendidikan harus bersandarkan perwujudan norma dalam diri si
pendidik. Oleh karena itu wibawa dan pelaksaannya mempunyai tujuan membawa anak
ketingkat kedewasaan, yaitu mengenal dan hidup yang sesuai dengan norma-norma
itu sendiri.
E.
Kewibawaan dan Identifikasi
Tujuan wibawa
pendidikan adalah berusaha membawa anak ke arah kedewasaannya. Ini berarti
secara beangsur-angsur anak dapat mengenal nilai-nilai hidup atau norma-norma
dan menyesuaikan diri dengan norma-norma itu dalam hidupnya. Bagaimana
norma-norma dan nilai identifikasi nilai hidup itu diterima dan dimiliki anak?
Syarat mutlak dalam pendidikan adalah adanya kewibawaan pada pendidik. Tanpa
kewibawaan, pendidik tidak akan berhasil baik.
Dalam melakukan
kewibawaan sipendidik mempersatukan dirinya dengan yang dididik, juga yang
dididik mempersatukan dirinya terhadap pendidiknya. Identifikasi mengandung
arti bahwa:
1.
Si pendidik
mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan dan kebahagiaan si anak. Ia
berbuat untuk anak, karena anak belum dapat berbuat sendiri. Ia memilih
untuknya, jadi untuk anaknya itulah ia mengambil tanggung jawab yang semestinya
menjadi tanggung jawab si anak sendiri. Jadi sipendidik akan mewakili kata hati
anak didiknya untuk sementara. Sipendidik memilih, mempertimbangkan dan
memutuskan untuk anak didiknya. Hal demikian dapat dipertanggung jawabkan, dan
memang perlu selama si anak belum dapat memilih, mempertimbangkan dan mengambil
keputusan untuk dirinya. Tetapi lambat laun campur tangan orang tua atau
pendidik harus makin berkurang.
2.
Si anak
mengidentifikasikan dirinya terhadap pendidiknya. Identifikasi anak sebagai
makhluk yang sedang tumbuh tentu saja berlain-lain menurut perkembangan
umurnya, menurut pengalamannya.
Ada dua cara mengidentifikasi oleh anak:
1.
Ia dapat sama
sekali melenyapkan dirinya menurut sempurna, tidak menentang perintah dan
larangan dilakukan secara pasif saja. Bahayanya adalah di dalam diri anak tidak
tumbuh kesadaran akan norma-norma, sehingga ia tidak akan mungkin sampai pada
tingkatan ”Penentuan Sendiri”.
2.
Karena ikatan
dengan sang pemegang wibawa (pendidik) terlalu kuat-erat, sehingga merintangi
perkembangan “AKU” anak itu. Tetapi ikatan yang sangat erat itu dapat
menimbulkan usaha yang sangat aktif untuk mencapai persamaan dengan
pendidiknya, berbuat sesuai dengan yang diharapkan dari pendidiknya, atau si
anak ingin menjadi sang pemegang “wibawa” itu.
Anak yang
menurut dapat memberikan gambaran seakan-akan kita mencapai hasil baik dalam
pendidikan. Akan tetapi harus diingat bahwa si anak harus kita didik
tidak saja dengan hak, melainkan dengan kewajiban membawa dirinya ke suatu
tingkatan untuk dapat makin mandiri.
Identifikasi
si anak terhadap orang tua atau pendidik lambat laun harus dilepaskan dari
sifat perseorangan dan harus ditujukan kepada norma-normanya.
Identifikasi
pada diri seorang anak mulanya tertuju kepada diri pribadi pendidiknya,
kemudian tertuju kepada nilai-nilai dan norma-normanya. Kelak ia lebih
melepaskan diri lagi dari pendidiknya dan lebih lagi menunjukkan dirinya kepada
nilai dan norma-norma itu. Jelas bahwa fungsi kewibawaan dalam pendidikan ialah
membuat si anak mendapatkan nilai-nilai dan norma-norma hidup.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
DAFTAR PUSTAKA
Al-Abrasyi, M.
Athiyah. 2001. Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: Bulan Bintang
M.Yunus,
Firdaus. 2004. Pendidikan Berbasis Realita. Yogyakarta:
Lagung Pustaka
Purwanto,
Ngalim. 1992. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Yaqin, Ainul.
2005. Pendidikan Multikultural. Yogyakarya : Nuansa Aksara
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar